Serka Aropik Kini Karyawan Khusus AA Energi
By aae • Aug 20th, 2008 • Category: kliping mediaSURABAYA — Ketabahan berbuah manis. Itulah yang dialami Serka Muhammad Aropik, anggota TNI-AD yang bertugas di Kodim 0816 Sidoarjo. Korban kerusuhan Ambon pada 2001 itu diundang sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energy solution, Artho Ageng Energi (AA Energi) kemarin.
Pria 30 tahun yang lumpuh akibat tertembak tengkuknya saat bertugas di Ambon semasa konflik itu, didapuk menjadi motivator. Dia berbicara di depan karyawan AA Energy dalam peringatan HUT ke-63 Kemerdekaan RI tersebut, dan diangkat menjadi karyawan khusus perusahaan itu.
Senin pagi lalu, Ropik -panggilan akrabnya– terjaga dari tidurnya. Dia terganggu dering telepon selularnya. Meski nomor di layar ponsel tak dikenal, dia tetap menerimanya.
Telepon tersebut ternyata dari Budiharjanto, komisaris AA Energi. Setelah berkenalan, Budiharjanto mengatakan, dia terkesan dengan kisah hidup Ropik yang dimuat Jawa Pos Minggu 17 Agustus lalu. Karena itu, dia ingin mengundang Ropik ke kantornya. ”Saya ingin bertemu Mas Ropik empat mata di kantor saya,” kata Ropik menirukan ucapan Budiharjanto.
Belum sempat menjawab, Budiharjanto menyambung perkataannya, akan mengirim undangan melalui dua karyawannya yang akan datang ke ruamah Ropik.
Pukul 10.30 dua karyawan AA Energi datang mengantar undangan. Mereka mengatakan akan datang lagi esok harinya (kemarin) untuk menjemput Ropik. Meski masih diliputi rasa penasaran, Ropik yakin akan bertemu orang baik. Dia lantas menelepon temannya, Bripka Ahmad Busairi dan Slamet.
Kemarin, Ropik bangun lebih awal dari biasanya. Dengan bantuan dua saudara perempuannya, dia bangkit dari tempat tidur pindah ke kursi roda. Dia tahu, berat tubuhnya yang mencapai 68 kg itu cukup memberati dua saudaranya.
Tapi, itu harus dilakukan karena dia hendak salat subuh. Setelah salat dia tidak kembali tidur. Tapi, minta tolong kedua saudaranya untuk memandikan. Lalu, dia jalan-jalan keliling kampung dengan kursi rodanya.
Tepat pukul 10.00 dia sudah menunggu jemputan yang akan membawanya ke suatu tempat yang belum diketahuinya. Dia mengenakan kaus hijau bertuliskan TNI-AD di kedua bahunya. 15 menit kemudian, dua karyawan AA Energi datang. Sebelum berangkat, Ropik mohon izin mengajak Busairi dan Slamet, teman baiknya sejak kecil.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, mobil yang ditumpangi Ropik masuk ke sebuah gedung tua di Jalan Veteran, kantor AA Energi. Dibantu Busairi dan Slamet, Ropik turun dari mobil dan dipindah ke kursi roda.
Ropik terkejut karena di depan pintu masuk gedung sudah menunggu Budiharjanto bersama beberapa direksi. Mereka menyambutnya. ”Selamat pagi Pak Ropik, selamat datang di sini,” kata Budiharjanto sambil menjabat tangan Ropik.
Mereka dipersilakan masuk ke dalam aula di lantai dua. Lagi, Busairi dan Slamet mengangkat Ropik ke lantai dua. ”Wah, abote arek iki,” kelakar Slamet yang disambut gelak tawa.
Ternyata, sudah banyak orang menunggunya di aula. Mereka duduk lesehan. ”Maaf Mas, kami terpaksa tidak bilang lebih dulu kalau disini ada acara,” kata Hertanto Bagus Wahono, general affair AA Energi. Ropik baru sadar bahwa dia diundang menjadi pembicara dalam acara peringatan HUT ke-63 Kemerdekaan RI perusahaan itu. ”Aduh malu saya, kalau tahu begini saya tadi tidak pake kaus seperti ini,” katanya.
Acara dibuka oleh Budiharjanto. ”Untuk memaknai kemerdekaan, kita tidak boleh hanya mengadakan lomba dan pesta. Tapi, juga harus memaknai dengan berbagi pada orang lain,” kata Budi dalam pidatonya.
Lebih lanjut Budi mengatakan, tidak mudah mempertahankan sebuah kemerdekaan. Diperlukan pengorbanan jiwa maupun raga. ”Karena itu, saya mengundang Pak Ropik hadir di sini untuk menceritakan pengalamannya mempertahankan kemerdekaan,” katanya. ”Meski bukan melawan penjajah, tapi dia sudah berkorban untuk negaranya,” lanjut Budi yang disambut tepuk tangan sekitar 60 karyawan perusahaan itu.
Duduk di kursi rodanya, Ropik pun menceritakan pengalamannya sebagai korban kerusuhan di Ambon. Dalam kata pembukaan, dia merasa tidak pantas berbicara di tempat itu. Sebab, masih banyak orang lain yang lebih bisa. ”Saya sedikit minder berada di tempat ini,” akunya.
Dia juga bercerita, sempat frustrasi dengan kondisi fisiknya yang divonis dokter tidak dapat berjalan seumur hidup. ”Saya sempat mau bunuh diri,” katanya. Ropik terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. Selain dia, lanjut Ropik, ada dua orang temannya yang bernasib sama. ”Mereka adalah Kopda Siswandi dan Kopda Sugeng, anggota Kopassus,” ungkapnya.
Ropik mengakhiri kisahnya dengan perjuangan untuk tetap hidup. ”Saya sadar bahwa hidup itu harus dijalani, bukan disesali,” katanya disambut tepuk tangan karyawan.
Tak lebih dari sepuluh menit Ropik berbicara. ”Saya memang tak mau bicara banyak. Nanti dikira saya sombong,” katanya. Budiharjanto memberikan penghargaan kepada Ropik -juga Kopda Siswandi dan Kopda Sugeng– berupa uang yang nominalnya tidak disebutkan. ”Saya ucapkan terima kasih banyak atas kepedulian bapak,” kata Ropik sambil mencium tangan Budiharjanto.
Ketiga tentara itu juga diangkat sebagai karyawan khsusus di perusahaan AA Energi. ”Kami berharap mereka dapat menyumbangkan pemikiran dan semangatnya kepada karyawan kami, sebagai motivator,” kata Budi. (dan/cfu) (Sumber : www.jawapos.co.id)